just a thoughts : eat movies, read foods.

Daniel Carmichael : a 20 yo who lives in Jakarta. Got a passion in movies, acting, foods, musics, and sleep a lot! Not playing with a shitty things - @dnielcarmichael
Recent Tweets @dnielcarmichael
Gula-Gula , Malam , Warna - will be my next :)
you may be a sinner, but I ain’t yet had the opportunity - Ennis Del Mar { Brokeback Mountain }

enjoying my friday night ! Brokeback Mountain and Moulin Rouge!

Lovely Man : A Drama with No Drama
            Lovely Man sebuah drama yang mengejutkan kita dengan prestasinya di Asian Film Award. Donny Damara berhasil mengalahkan pesaingnya termasuk Andy Lau dan muncul sebagai best Actor. Tidak hanya itu Teddy Soeriaatmaja pun mendapat nominasi sebagai best director. Dan tentu hal ini membuat saya menunggu perilisan Lovely Man di bioskop. Sayangnya belum semua bioskop menayangkan Lovely Man. But trust me, Lovely Man is a must watch film.
            Film ini mengisahkan seorang Cahaya (Raihaanun) yang memutuskan pergi ke Jakarta karena merindukan sosok ayahnya yang tidak juga pulang setelah 15 tahun. Ayahnya hanya mengirimkan uang setiap bulannya demi kehidupan Cahaya dan ibunya. Yang Cahaya ingat hanyalah sosok Saiful (Donny Damara) sebagai seorang ayah yang ramah, bijak, dan sayang dengan anaknya saat ia berusia 4 tahun. Berbekal tekad, ia pun mencari ayahnya di tengah ibu kota, membawa harapan besar akan sosok seorang ayah , dan sebuah rahasia besar yang ia pendam dan ia harap dapat menemukan jawabannya setelah berhasil menemui sang ayah.
            Tema transgender mungkin bukan tema pertama yang diangkat ke layar lebar. Sebelumnya baru-baru ini ada Sanubari Jakarta sebuah omnimbus berisi sepuluh kisah bertemakan LGBT. Namun Lovely Man membawa tema ini ke taraf yang berbeda. Seakan menguak realitas ibu kota yang ada. Donny Damara atau Saiful di film ini memutuskan untuk menjadi seorang waria pinggir jalan untuk bertahan hidup di Jakarta dan menafkahi keluarganya yang telah ia tinggal sampai 15 tahun lamanya. Hal yang menarik adalah ada dialog yang menyatakan bahwa ia tidak terpaksa melakukan ini, ini adalah hal yang ia sukai. Terlihat berlebihan? Menurut saya tidak, justru inilah fakta yang ada di sekitar kita. Film ini seperti menunjukkan bahwa semua pilihan yang diambil bukannya tanpa alasan. Semua terjadi karena berbagai sebab yang ada.
            Sebuah penampilan yang luar biasa dari Donny Damara dan Raihaanun. Dalam film ini hanya ada 2 karakter dengan kepribadian yang bertolak belakang. Namun tetap tidak membuat kita merasa bosan, justru membuat kita tidak bisa melepas mata kita kepenampilan menakjubkan dari dua pemain ini. Chemistry yang dibuat sangat berhasil. Benar-benar meyakinkan kita bahwa dua orang ini adalah seorang anak dan seorang ayah yang menanggung konflik batin didalam dirinya. Mereka lah karakternya bukan berusaha menghidupkan karakter yang ada. Lovely Man seakan mengajak kita untuk melihat sebuah realita yang ada di sekitar kita , bukan sekedar menonton sebuah film. Kita disuguhkan sebuah drama yang tanpa drama. Semuanya pas, tidak ada yang berlebihan. Permainan konflik yang sangat pas, yang membuat kita merasa bahwa kita ingin sesuatu yang lebih. Tidak ingin kisah ini berakhir hanya sampai disini.  Namun bukan berarti kemudian Lovely Man adalah sebuah drama yang serius. Semuanya dikisahkan dengan gaya ringan, dengan dialog dialog yang cerdas walaupun ada beberapa kali pengulangan dalam dialognya.
Potret ibu kita yang sering kali terlewat oleh kita kini mendapat sorotan yang pas. Film ini benar-benar membuk mata kita. Mengenai bagaimana kehidupan waria pinggir jalan yang selalu menghiasi keglamouran Jakarta. Donny Damara memerankan sosok waria dengan sangat mencengangkan. Menghadirkan sosok waria yang sangat feminim dan sosok ayah yang begitu kebapakan dalam waktu yang bersamaan. Aktingnya benar-benar natural, ke”ngondek”an yang ditunjukkan tidak terlihat dibuat-buat. Mengalir begitu saja. Celotehan-celotehan nakal yang keluar pun seakan meyakinkan kita bahwa ia benar-benar seorang waria. Totalitas yang luar biasa dari seorang Donny Damara.
            Namun lagi-lagi sayangnya dukungan masyarakat akan film seperti ini terlihat sangat kurang. Agak sayang kalau film seperti ini kalau sepi dari penonton. Saat menontonnya bisa dibilang seisi bioskop malah kurang dari 15 orang. Atau mungkin minat yang sedikit ini yang menyebabkan jumlah bioskop untuk menayangkan film ini sedikit? Jadi mari kita support film local kita teman-teman. This is our time! Kita biarkan film-film yang memang layak ditonton terus bertahan di bioskop. 

Regards,
@dnielcarmichael

Lovely Man : A Drama with No Drama

            Lovely Man sebuah drama yang mengejutkan kita dengan prestasinya di Asian Film Award. Donny Damara berhasil mengalahkan pesaingnya termasuk Andy Lau dan muncul sebagai best Actor. Tidak hanya itu Teddy Soeriaatmaja pun mendapat nominasi sebagai best director. Dan tentu hal ini membuat saya menunggu perilisan Lovely Man di bioskop. Sayangnya belum semua bioskop menayangkan Lovely Man. But trust me, Lovely Man is a must watch film.

            Film ini mengisahkan seorang Cahaya (Raihaanun) yang memutuskan pergi ke Jakarta karena merindukan sosok ayahnya yang tidak juga pulang setelah 15 tahun. Ayahnya hanya mengirimkan uang setiap bulannya demi kehidupan Cahaya dan ibunya. Yang Cahaya ingat hanyalah sosok Saiful (Donny Damara) sebagai seorang ayah yang ramah, bijak, dan sayang dengan anaknya saat ia berusia 4 tahun. Berbekal tekad, ia pun mencari ayahnya di tengah ibu kota, membawa harapan besar akan sosok seorang ayah , dan sebuah rahasia besar yang ia pendam dan ia harap dapat menemukan jawabannya setelah berhasil menemui sang ayah.

            Tema transgender mungkin bukan tema pertama yang diangkat ke layar lebar. Sebelumnya baru-baru ini ada Sanubari Jakarta sebuah omnimbus berisi sepuluh kisah bertemakan LGBT. Namun Lovely Man membawa tema ini ke taraf yang berbeda. Seakan menguak realitas ibu kota yang ada. Donny Damara atau Saiful di film ini memutuskan untuk menjadi seorang waria pinggir jalan untuk bertahan hidup di Jakarta dan menafkahi keluarganya yang telah ia tinggal sampai 15 tahun lamanya. Hal yang menarik adalah ada dialog yang menyatakan bahwa ia tidak terpaksa melakukan ini, ini adalah hal yang ia sukai. Terlihat berlebihan? Menurut saya tidak, justru inilah fakta yang ada di sekitar kita. Film ini seperti menunjukkan bahwa semua pilihan yang diambil bukannya tanpa alasan. Semua terjadi karena berbagai sebab yang ada.

            Sebuah penampilan yang luar biasa dari Donny Damara dan Raihaanun. Dalam film ini hanya ada 2 karakter dengan kepribadian yang bertolak belakang. Namun tetap tidak membuat kita merasa bosan, justru membuat kita tidak bisa melepas mata kita kepenampilan menakjubkan dari dua pemain ini. Chemistry yang dibuat sangat berhasil. Benar-benar meyakinkan kita bahwa dua orang ini adalah seorang anak dan seorang ayah yang menanggung konflik batin didalam dirinya. Mereka lah karakternya bukan berusaha menghidupkan karakter yang ada. Lovely Man seakan mengajak kita untuk melihat sebuah realita yang ada di sekitar kita , bukan sekedar menonton sebuah film. Kita disuguhkan sebuah drama yang tanpa drama. Semuanya pas, tidak ada yang berlebihan. Permainan konflik yang sangat pas, yang membuat kita merasa bahwa kita ingin sesuatu yang lebih. Tidak ingin kisah ini berakhir hanya sampai disini.  Namun bukan berarti kemudian Lovely Man adalah sebuah drama yang serius. Semuanya dikisahkan dengan gaya ringan, dengan dialog dialog yang cerdas walaupun ada beberapa kali pengulangan dalam dialognya.

Potret ibu kita yang sering kali terlewat oleh kita kini mendapat sorotan yang pas. Film ini benar-benar membuk mata kita. Mengenai bagaimana kehidupan waria pinggir jalan yang selalu menghiasi keglamouran Jakarta. Donny Damara memerankan sosok waria dengan sangat mencengangkan. Menghadirkan sosok waria yang sangat feminim dan sosok ayah yang begitu kebapakan dalam waktu yang bersamaan. Aktingnya benar-benar natural, ke”ngondek”an yang ditunjukkan tidak terlihat dibuat-buat. Mengalir begitu saja. Celotehan-celotehan nakal yang keluar pun seakan meyakinkan kita bahwa ia benar-benar seorang waria. Totalitas yang luar biasa dari seorang Donny Damara.

            Namun lagi-lagi sayangnya dukungan masyarakat akan film seperti ini terlihat sangat kurang. Agak sayang kalau film seperti ini kalau sepi dari penonton. Saat menontonnya bisa dibilang seisi bioskop malah kurang dari 15 orang. Atau mungkin minat yang sedikit ini yang menyebabkan jumlah bioskop untuk menayangkan film ini sedikit? Jadi mari kita support film local kita teman-teman. This is our time! Kita biarkan film-film yang memang layak ditonton terus bertahan di bioskop.


Regards,

@dnielcarmichael

Modus Anomali : This is a Roller Coaster!
“I’m done here, I’ll be home tonight”
            OK is’s pretty late. But I think I have to write it. Modus Anomali. Film lokal yang paling saya tunggu di tahun 2012 ini beside The Raid. Why? Come on this is Joko Anwar’s film, everyone have to watch it! Saya yakin sudah banyak yang menonton film ini, dan banyak pula yang masih ragu untuk nonton Modus Anomali. Banyak yang enggan menonton dengan alasan ini film Indonesia, apa yang bisa diharapkan? (ini pendapat teman kampus saya yang saya bujuk buat nonton Modus Anomali). And seriously, buat kalian yang belum nonton you have to watch it soon, di Jakarta sendiri untuk 21 kalo tidak salah tinggal 2 bioskop yang menayangkan Modus Anomali. Sangat disayangkan kalau film ini harus cepat hilang dari bioskop. I watch it twice. Bukan karena gadapet maknanya saat nonton pertama kali, but I Love it! I Love it so much!
            Dari alur cerita mungkin tidak perlu saya bahas. Tentu kita semua sudah tahu. Kali ini saya akan memberi opini saya tentang Modus Anomali. Again, ini agak subjektif, jadi tidak menutup kemungkinan kalau banyak orang yang tidak sependapat dengan saya. I just try to write what I feel about Modus Anomali J
            I’m a big fan of Joko Anwar. Really, he is totally brilliant for me. He makes films with his own style. Something that I really adore. Di Modus Anomali, kita bener-bener kembali disuguhkan film yang Joko Anwar banget. Entah memang hobbynya atau bagaimana, beliau seakan ga ngebiarin kita buat duduk manis, makan pop corn, ngobrol sama kiri kanan, sambil nonton film. Di Kala dan Pintu Terlarang kita diajak berpikir what’s next. Dan sekarang di Modus Anomali kita malah langsung dibawa ke hutan! Dan feelnya nyampe banget. Kita seolah diajak ke sebuah labirin and we have to try to find the way out with the main character. And wohooo , it’s work! Saat nonton saya bener-bener bisa merasakan feel yang dibangun oleh sang sineas dari awal cerita. Errr, actually semenjak trailernya keluar. I feel so excited, dari awal film sampai akhir film. Semuanya menarik. Tempo yang dibuat tidak terlalu lambat, dan tidak terlalu cepat. Semuanya pas. Cerdas. Pembangunan feel ini tentu tidak lepas dari scoring yang luar biasa menurut saya. Kesan “dark” sepanjang film pun ditampilkan secara konsisten. Kedua faktor ini berhasil membuat hutan terlihat sangat mencekam dan kita bisa ngerasain hal yang sama dengan si karakter.
            Dari segi cerita Modus Anomali benar-benar luar biasa bagi saya. Sangat layak untuk di tunggu. Cerdas. Jangan berharap sebuah film dengan pesan moral ini itu saat menonton Modus Anomali. Kalo iya ok, you’ll get nothing. Joko memberi kita lebih. Pengalaman menonton film lokal yang sudah lama kita nantikan. Kesenangan menonton sambil memutar pikiran kita. This is amazing! Ada beberapa hal yang mungkin membuat kita bingung ato ilfeel di beberapa scene. Kebetulan saat menonton pertama kali saya ikut nonton bareng dimana crew dan castnya hadir ke lokasi. Dan as I guess before, bagian-bagian ini menjadi pertanyaan para penonton. Dan yah Joko memiliki alasan untuk setiap detail-detail yang ada dalam filmnya. Jadi semua yang ada di film ini punya alasannya sendiri. Tinggal bagaimana kita berpikir apa maksud hal-hal tersebut harus terjadi di dalam scene.
            Banyak yang mempertanyakan akan pemilihan cast. Kenapa harus Rio Dewanto yang menjadi John Evans? Ok ini juga salah satu pemikiran yang terlintas di pikiran saya. But Rio Dewanto proved it that he deserved to play this cast. Ini memang bukan penampilan terbaik Rio Dewanto, but hell yeah He is f*cking awesome there! Bagi saya film ini terbagi menjadi dua segment. Rio bermain baik di segment pertama, dan di segment kedua dia FANTASTIC! Jadi menurut saya ok saja bila akhirnya Rio yang memerankan peran ini. Dia multi talented. Ingat perannya sebagai gay di Arisan 2? Salah satu bentuk totalitas yang luar biasa dari seorang Rio Dewanto. Namun bila ada kandidat lain sebagai John Evans, menurut saya mungkin akan jatuh ke Fachri Albar yang tampil menakjubkan di Kala dan Pintu Terlarang. Atau mungkin Ario Bayu. But really, Rio Dewanto is totally amazing there!
            Modus Anomali benar-benar membuktikan bahwa film lokal kita masih mampu dan layak bersaing dengan film luar lainnya. Bisa dibilang memberi harapan besar bagi perkembangan industri perfilman dalam negeri. Film ini berhasil meraih penghargaan Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Film yang merupakan bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival Korea Selatan. Bahkan untuk World premierenya sendiri di SXSW (South By Southwest Film Festival), Austin, Texas. Modus Anomali berbicara banyak di perfilman Internasional. Apakah kita mau membiarkan film ini lewat begitu saja? Aio kita tonton dan support film ini, supaya bisa menjadi cambukan bagi film maker lainnya untuk berhenti membuat film asal jadi, melainkan memberi kita film berkualitas yang memang layak di tonton.
Regards,
@dnielcarmichael

Modus Anomali : This is a Roller Coaster!

“I’m done here, I’ll be home tonight”

            OK is’s pretty late. But I think I have to write it. Modus Anomali. Film lokal yang paling saya tunggu di tahun 2012 ini beside The Raid. Why? Come on this is Joko Anwar’s film, everyone have to watch it! Saya yakin sudah banyak yang menonton film ini, dan banyak pula yang masih ragu untuk nonton Modus Anomali. Banyak yang enggan menonton dengan alasan ini film Indonesia, apa yang bisa diharapkan? (ini pendapat teman kampus saya yang saya bujuk buat nonton Modus Anomali). And seriously, buat kalian yang belum nonton you have to watch it soon, di Jakarta sendiri untuk 21 kalo tidak salah tinggal 2 bioskop yang menayangkan Modus Anomali. Sangat disayangkan kalau film ini harus cepat hilang dari bioskop. I watch it twice. Bukan karena gadapet maknanya saat nonton pertama kali, but I Love it! I Love it so much!

            Dari alur cerita mungkin tidak perlu saya bahas. Tentu kita semua sudah tahu. Kali ini saya akan memberi opini saya tentang Modus Anomali. Again, ini agak subjektif, jadi tidak menutup kemungkinan kalau banyak orang yang tidak sependapat dengan saya. I just try to write what I feel about Modus Anomali J

            I’m a big fan of Joko Anwar. Really, he is totally brilliant for me. He makes films with his own style. Something that I really adore. Di Modus Anomali, kita bener-bener kembali disuguhkan film yang Joko Anwar banget. Entah memang hobbynya atau bagaimana, beliau seakan ga ngebiarin kita buat duduk manis, makan pop corn, ngobrol sama kiri kanan, sambil nonton film. Di Kala dan Pintu Terlarang kita diajak berpikir what’s next. Dan sekarang di Modus Anomali kita malah langsung dibawa ke hutan! Dan feelnya nyampe banget. Kita seolah diajak ke sebuah labirin and we have to try to find the way out with the main character. And wohooo , it’s work! Saat nonton saya bener-bener bisa merasakan feel yang dibangun oleh sang sineas dari awal cerita. Errr, actually semenjak trailernya keluar. I feel so excited, dari awal film sampai akhir film. Semuanya menarik. Tempo yang dibuat tidak terlalu lambat, dan tidak terlalu cepat. Semuanya pas. Cerdas. Pembangunan feel ini tentu tidak lepas dari scoring yang luar biasa menurut saya. Kesan “dark” sepanjang film pun ditampilkan secara konsisten. Kedua faktor ini berhasil membuat hutan terlihat sangat mencekam dan kita bisa ngerasain hal yang sama dengan si karakter.

            Dari segi cerita Modus Anomali benar-benar luar biasa bagi saya. Sangat layak untuk di tunggu. Cerdas. Jangan berharap sebuah film dengan pesan moral ini itu saat menonton Modus Anomali. Kalo iya ok, you’ll get nothing. Joko memberi kita lebih. Pengalaman menonton film lokal yang sudah lama kita nantikan. Kesenangan menonton sambil memutar pikiran kita. This is amazing! Ada beberapa hal yang mungkin membuat kita bingung ato ilfeel di beberapa scene. Kebetulan saat menonton pertama kali saya ikut nonton bareng dimana crew dan castnya hadir ke lokasi. Dan as I guess before, bagian-bagian ini menjadi pertanyaan para penonton. Dan yah Joko memiliki alasan untuk setiap detail-detail yang ada dalam filmnya. Jadi semua yang ada di film ini punya alasannya sendiri. Tinggal bagaimana kita berpikir apa maksud hal-hal tersebut harus terjadi di dalam scene.

            Banyak yang mempertanyakan akan pemilihan cast. Kenapa harus Rio Dewanto yang menjadi John Evans? Ok ini juga salah satu pemikiran yang terlintas di pikiran saya. But Rio Dewanto proved it that he deserved to play this cast. Ini memang bukan penampilan terbaik Rio Dewanto, but hell yeah He is f*cking awesome there! Bagi saya film ini terbagi menjadi dua segment. Rio bermain baik di segment pertama, dan di segment kedua dia FANTASTIC! Jadi menurut saya ok saja bila akhirnya Rio yang memerankan peran ini. Dia multi talented. Ingat perannya sebagai gay di Arisan 2? Salah satu bentuk totalitas yang luar biasa dari seorang Rio Dewanto. Namun bila ada kandidat lain sebagai John Evans, menurut saya mungkin akan jatuh ke Fachri Albar yang tampil menakjubkan di Kala dan Pintu Terlarang. Atau mungkin Ario Bayu. But really, Rio Dewanto is totally amazing there!

            Modus Anomali benar-benar membuktikan bahwa film lokal kita masih mampu dan layak bersaing dengan film luar lainnya. Bisa dibilang memberi harapan besar bagi perkembangan industri perfilman dalam negeri. Film ini berhasil meraih penghargaan Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Film yang merupakan bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival Korea Selatan. Bahkan untuk World premierenya sendiri di SXSW (South By Southwest Film Festival), Austin, Texas. Modus Anomali berbicara banyak di perfilman Internasional. Apakah kita mau membiarkan film ini lewat begitu saja? Aio kita tonton dan support film ini, supaya bisa menjadi cambukan bagi film maker lainnya untuk berhenti membuat film asal jadi, melainkan memberi kita film berkualitas yang memang layak di tonton.

Regards,

@dnielcarmichael

5 orang yang bekerja dalam dan sekitar dunia film (seorang Unit Manager, seorang Line Producer, seorang Publicist, seorang Film Blogger, seorang actor) akan dibimbing oleh Paul Agusta dalam menulis lalu memproduksi film pendek pertama sebagai sutradara. Tujuan utama The Cherry Project adalah regenerasi; pencarian bakat dan suara-suara baru dalam perfilman Indonesia yang dimulai dari orang-orang yang memahami seluk-beluk film dan telah mendedikasikan diri mereka ke film dalam berbagai cara. Bantu mereka wujudkan impian mereka.

Proses pengembangan kelima skenario dan konsep film pendek yang bergabung dalam The Cherry Project sudah dimulai sejak bulan Februari 2012, dan produksi pertama dijadwalkan mulai dijalankan bulan July 2012. Dana yang dikumpulkan akan digunakan untuk membiayai produksi masing-masing film pendek dari pra-produksi hingga sampai editing, mixing, finalizing, produksi DVD Antologi The Cherry Project serta promosi dan pemutaran keliling beberapa kota.

Keseluruhan proses akan dilaksanakan dibawah supervise dan naungan Paul Agusta dan Kinekuma Pictures yang telah berpengalaman memproduksi film panjang, dokumenter, film pendek, dan video klip music sejak 2007.

Synopsis:

1. “Invitation” Penulis dan Sutradara: Daniel Carmichael - @dnielcarmichael

Invitation bercerita mengenai sebuah pesta misterius yang diadakan secara acak setiap tahunnya. Mereka yang diundang pun ditentukan secara random. Dimana semuanya yang datang pada akhirnya akan bermain dalam suatu permainan maut, dan hanya akan ada 1 yang bertahan pada akhirnya. Tahun 2012 pesta ini kembali diadakan secara rahasia and You’re INVITED!

2. “Ata Pulang" Penulis dan Sutradara: Edwin Kartowidjojo - @kartowidjojo

Suasana acara makan siang perayaan hari raya di rumah keluarga pasangan Jenny dan Jeffrey yang biasanya kaku menjadi panas karena keponakan mereka, Eddie, mendakwa mereka dan Andrew, adik bungsu Jenny, tidak peduli dengan kehidupan Ata, anak sulung Andrew dari perkawinan pertamanya, yang hidup dan besar di Belanda di luar tanggung jawab Andrew sejak Ata berusia 13 tahun. Menurut Eddie, semestinya Jenny dan Jeffrey segera mengambil alih hak asuh Ata dan membawanya pulang ke Indonesia untuk dibesarkan dan dididik dari pada dibiarkan diasuh di Belanda oleh June, single parent beranak satu, anak bungsu pasangan Jenny dan Jeffrey. Alasan tingginya biaya pengalihan hak asuh dan kepindahan Ata ke Indonesia tidak dapat diterima Eddie karena keluarga pasangan Jenny dan Jeffrey mampu hidup mewah. Sementara kekisruhan terjadi hingga berujung kepada pengusiran terhadap Eddie beserta Henny ibunya, Ata yang kini berusia 18 tahun sedang dalam perjalanan menuju rumah Eddie berbekal alamat yang diberikan Nenek Ingrid.

3. “Ghost?" Penulis dan Sutradara: Husein Muhammad Atmodjo - @monyetjinak

Seorang hantu kakek tinggal disebuah apartemen kosong. Kesendirian dan kesunyian menjadi teman akrab yang menghiasi kebahagiaan semunya. Masalah muncul ketika sebuah keluarga manusia pindah ke apartemen tersebut. Kebahagiaan sang hantu ternodai. Hubungan manusia dan hantu secara perlahan-lahan terkoneksi. Perlahan interaksi antara anggota keluarga manusia semakin sering terjadi, sementara sang hantu kakek lebih ketakutan dengan kehadiran manusia di lingkungan yang dia kuasai.

4. “8Mata" Penulis dan Sutradara: Kyo Hayanto - @kyohayanto

8Mata merupakan kumpulan ketakutan dari si pembuat. Mengeksplorasi ketakutan-ketakutan sekecil laba-laba, sepersonal trauma masa kecil, hingga seintim relationship.Mengumpulkan ketakutan-ketakutan tersebut dari dunia sekeliling yang kemudian dipresentasikan dalam dunia gelap baru lalu merefleksikan hasil tersebut dalam proses bercerita yang surreal, membungkusnya dengan animasi hand-drawing, dan mencampur sentuhan digital kedalamnya. Menggunakan monolog sebagai pengantar penonton menjelajahi ruang personal si pembuat. Lalu meninggalkan penonton untuk menyelesaikan ketakutan yang terbentuk oleh film ini.

5. “My Secret Identity" Penulis dan Sutradara: Verdi Solaiman - @verdisolaiman

Seorang laki-laki berangsur-angsur siuman, dan mendapatkan dirinya terikat di sebuah kursi kayu dan terkurung dalam sebuah gudang, dikelilingi mayat dan potongan tubuh manusia. Mengapa dia disitu? Siapakah mayat-mayat yang bertebaran sekitarnya? Apakah dia akan selamat?

Anda dapat turut membantu filmmaker @CherryProject_ ini mewujudkan mimpi mereka lewat dukungan dan donasi di wujudkan.com Tell your friends! Support Local Cinema! Support New Filmmakers! Follow this link : http://t.co/QI5T5Wxn

Paul Agusta, lebih dikenal sebagai short film director. His last short called Parts of the Heart. He makes a project called a Cherry Project, which is a Omnimbus Film (Actually this is what I think). Jadi di satu film terbagi menjadi beberapa segment, and in case ini kebagi jadi 5 different films. 5 stories with a 5 beginner directors! buat yang gatau omnimbus apa mungkin bisa liat 4bia, HI5TERIA (local movies), or Sanubari Jakarta.

The 5 directors are Edwin Kartowijojo, Monji , Kyo Hayanto, Verdi Solaimen (a well known actor) , and ME! Wohooo! Still cant believe that I will join this amazing project. Dengan genre yang berbeda like drama, comedy, animation, horror and thriller, kita bakal mendirect semuanya dan didukung a lot of crew off course.

Actually, this is my first time to direct a serious short film. My film title is “Invitation” a bloody thriller short film. I’m totally nervous for it but I’m too excited for it in the same time. So just wish me luck for it! I will try my best!

Regards,

@dnielcarmichael

Payung Merah and Merindu Mantan : When Horror Finally Finds Home

This is the time when short films speak a lot !”

            Kali ini saya akan memberikan opini saya mengenai dua buah short film. Sangat terlihat jelas bahwa short films masih cenderung dianak tirikan di negeri kita ini. Namun sepertinya hal ini justru tidak dijadikan hambatan bagi para film maker. Justru mereka terus menghasilkan karya-karya luar biasa dan ternyata tidak sedikit dari mereka mampu bersaing di ajang internasional. Saat itu saya agak sedikit lupa tepatnya, saya datang menghadiri screening film pendek Add Words Production do bentaran budaya Jakarta. Ada beberapa short film yang ditayangkan. Broken Vase, The Borrowed Time, Garis Bawah, danjuga dua film ini.

            Mungkin sudah banyak yang tahu mengenai Payung Merah sendiri. Karena Payung Merah sendiri telah meraih penghargaan di Hongkong film festival. Payung Merah sebuah film pendek bergenre horror yang disutradarai oleh dua sutradara muda yang sangat brilliant. Edward Gunawan dan Andri Cung. Payung Merah mengangkat cerita horor lokal. Dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto. Ceritanya simple. Mengenai seorag perempuan yang tengah menunggu taksi untuk mengantarnya pulang. Rio berperan sebagai supir taksi itu dan Atiqah sebagai penumpangnya. Selama perjalanan mereka terlibat pembicaraan yang ringan namun serius. Dan sesampainya di tujuan, Rio dikejutkan oleh suatu kenyataan bahwa Atiqah bukanlah seorang penumpang “biasa” setelah bertemu dengan seorang pria tua ( diperankan oleh Zubir Mustaqim ) yang membawa payung merah yang sama seperti perempuan itu. Payung Merah menceritakan mengenai 3 orang yang mencari jalan pulangnya masing-masing. Disini Edward dan Andri berhasil membawakan suatu horror ringan, tanpa efek berlebihan, tanpa make up yang diseram-seramkan, tanpa scoring yang dilebih-lebihkan. Semuanya halus, smooth. Dan pesan yang ada pun juga berhasil disampaikan. Dan lagi-lagi Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto menyuguhkan kita penampilan yang luar biasa. Akting yang natural dan pengarakteran yang luar biasa kuat dari seorang Atiqah benar-benar menakjubkan. Yah memang Atiqah sudah tidak dapat diragukan lagi, coba saja kita ingat perannya dalam Jamilah dan Sang Presiden. And ok she is awesome ! Dan kabar baiknya adalah Payung Merah sedang dalam proses pembuatan versi panjangnya Payung Merah the Movie. Yaaapp I’m totally excited for it!

            Sedangkan Merindu Mantan mungkin masih agak asing ditelinga kita. Merindu Mantan merupakan film pendek arahan Andri Cung yang bergenre supernatural horror. Merindu Mantan (Revenge) sedikit lebih creepy dibandingkan dengan Payung Merah. Namun Andri membuat semuanya tetap halus. Tetap dalam porsi yang pas tidak dilebih-lebihkan. Merindu Mantan bercerita mengenai seorang gadis desa yang lugu yang ternyata dikhianati oleh kekasihnya yang pergi ke kota. Tanpa diluar dugaan, ternyata gadis tersebut berubah 180 derajat dari kesehariannya. Berubah drastis, menjadi jahat, dan sangat jahat. Gadis desa tersebut deperankan oleh Aimee Saras. Yang membawakan salah satu acara berita di Metro TV. Ini kali pertamanya saya melihat Akting Aimee. And what? She was so adorable here. Memerankan seorang gadis lugu yang kemudian menjadi seorang psychotic in the same time. Padahal porsi yang menunjukkan dia seorang gadis lugu agak sedikit sebenarnya hanya di meni-menit awal. Tapi kita semua yang menonton berhasil mengetahuinya dari ekspresi, karakter, dan gesture yang dihidupkan oleh Aimee. Yap, she was adorable there. Andri Cung berhasil membuat kita semua (terutama laki-laki) yang menontonnya merasa ngilu di adegan puncaknya. Berhasil membawa kengerian kepada kita semua hanya dalam durasi film yang sesingkat itu. Memilih scoring yang pas yaitu lagu jawa yang terbukti berhasil menaikkan bulu kuduk kita saat menonton. Menghadirkan setting tempat yang pas di kamar Aimee , lengkap dengan kelambu dan kipas angin tua tersebut. Yak film pendek ini benar-benar epic. Andri Cung totally genius there.

            Mungkin beberapa dari kita menganggap ini biasa. Ini short film, bukan hal susah membuat film berdurasi beberapa menit. Benarkah? Menurut saya sama sekali tidak. Justru menyampaikan pesan dalam media film pendek yang hanya memberikan beberapa menit saja adalah hal yang susah menurut saya. Memang tidak luar biasa susah, namun rumit. Ide dibalik Payung Merah dan Merindu Mantan menurut saya pun brilliant. Payung Merah mengambil base cerita yang sudah banyak diketahui oleh orang lain dari mulut ke mulut, dan bahkan susah menjadi sebuah legenda ditempat itu tersendiri. Bagaimana mengemasnya menjadi sebuah gambaran visual yang nyaman ditonton dan tetap mengajak penonton mereka-reka apa yang akan terjadi menurut saya adala sesuatu yang genius. Endingnya tidak terduga. Dan inilah apa yang kita butuhkan saat ini. Bukan bentuk horror berlebihan dengan pemain seksi dimana-mana (kesekian kalinya saya menuliskan hal ini). Payung Merah berhasil menghadirkan kengerian tanpa adanya hal tersebut. Tanpa hantu yang seramnya dibuat-buat. Permainan halus yang dimainkan oleh Edward dan Andri berhasil 100 persen disini. Ditengah situasi dimana horror semakin dikambing hitamkan , dua sineas muda ini berhasil membawa harapan bagi kita penggemar film horror tanah air bahwa masih ada harapan bagi perkembangan horror Indonesia. Masih ada harapan untuk bangkit. Lalu genre supernatural horror yang diusung oleh Merindu Mantan pun bisa dibilang akan menjadi trend baru. Dimana horror seperti ini lebih fresh dan terbukti berhasil membuat kita yang menonton merasakan “sesuatu” sesuai yang diharapkan (sepertinya) oleh sang sutradara. Dan yak dua film ini agak mengingatkan saya kepada horror jadul yang berhasil menciptakan kengerian tanpa porsi yang berlebihan. Dan ada hal penting yag bisa kita temui dikedua short films ini Sinematografi kedua film ini benar-benar halus. Smooth! Benar-benar memanjakan mata. Sebuah detail yang kerap diabaikan namun justru dihadirkan dengan luar biasa disini. Andri Cung and Edward Gunawan are totally genius.

Dan melalui Payung Merah, Edward dan Andri pun membuktikan bahwa film pendek mampu berbicara banyak. Terbukti dari penghargaan-penghargaan yang diterima oleh Payung Merah yang salah satunya adalah menang dalam Asian Short Film Awards di Singapore.  And yap finally our Horror finds the way home!

 

Regards,

@dnielcarmichael

John Carter : Another Disney Typical Adventureland
            Anda penggemar film fantasy? Atau mencari pilihan yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga saat akhir pekan? Then you must be love this one. John Carter, film fantasy dibawah naungan Disney akan menjadi pilihan tepat. Tidak perlu berpikir saat menonton film ini, cukup duduk manis, membeli seporsi popcorn, and yap you’re ready to enjoy this movie guys.
            John Carter bercerita mengenai seorang petualang, arkeolog yang secara tidak sengaja menemukan suatu tempat atau portal antara Bumi dan planet yang bernama Barsoom. John menjadi orang yang paling dicari saat itu. Ia dipaksa untuk bergabung ke dalam angkatan perang AS yang sedang dalam misinya melawan suku Apache, namun ia adalah type orang yang tidak pernah kehabisan akal. Dia berhasil meloloskan diri. Dan kemudian kabur yang akhirnya membawa dia kesebuah gua misterius yang diyakini oleh dirinya sebagai gua yang menyimpan sebuah emas seperti yang dicari-cari oleh dirinya selama ini. Namun saat didalam ia dikejutkan oleh seorang “dewa” yang memegang sebuah kalung. Terkejut ada manusia biasa di gua yang jarang dijamah tersebut, sang dewa itu berusaha untuk membunuh Carter, karena memegang sebuah pistol, Carter berusaha melindungi dirinya dan menembak sang “dewa” tersebut. Ia mengambil kalungnya dan terlempar kesebuah planet bernama Barsoom. Yang tingkat gravitasinya berlawanan dengan bumi. Planet ini dihuni oleh mahluk-mahluk fantastis. Dan ternyata planet ini adalah planet yang dikenal oleh manusia bumi sebagai planet Mars. Berusaha mencari jalan pulang, Carter pun mulai berpetualang diplanet tersebut, terlibat dalam permusuhan dua kubu besar. Dimana yang satunya berusaha mendominasi, dan yang satunya berusaha mempertahankan eksistensi ke keberadaan kelompoknya. Bertemu dengan berbagai kumpulan “alien”, para manusia jahat dengan obsesi menguasai seantero planet, kemudian kelompok yang bertahan dengan putri yang cantik didalamnya. Pertarungan fantastis terjadi didalam film ini, kisah cinta antara Carter dan sang putri pun juga mulai tercipta.
            Menonton film ini mengingatkan saya pada saat menonton Prince of Persia yang juga dibawah naungan Disney. Namun kali ini Disney bermain dengan planet Mars. Semuanya bermain aman. Tidak buruk, efek-efek yang digunakan pun fantastis, jalan cerita yang menarik untuk diikuti. Namun Disney seakan bermain aman. Tidak ada hal yang diluar dugaan muncul di film ini. (dan sekali lagi ini hanyalah opini saya, yang akan agak subyektif). Adegan peradegan seakan bisa ditebak. Benar-benar tipikal film keluarga yang menarik disimak saat ingin menghabiskan bersama dengan keluarga di akhir pekan. Namun setelah menonton ini beberapa dari kita mungkin berpikir “we need more, come on!”. Beberapa dari kita mengharapkan ending yang unpredictable dan tidak selalu happy ending. Namun overall film ini tetap berhasil menghasilkan decak kagum banyak penontonnya, tetap nyaman untuk disimak. Yak John Carter tetap menjadi pilihan yang pas untuk kita para penggemar film J
Regards,
@dnielcarmichael

John Carter : Another Disney Typical Adventureland

            Anda penggemar film fantasy? Atau mencari pilihan yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga saat akhir pekan? Then you must be love this one. John Carter, film fantasy dibawah naungan Disney akan menjadi pilihan tepat. Tidak perlu berpikir saat menonton film ini, cukup duduk manis, membeli seporsi popcorn, and yap you’re ready to enjoy this movie guys.

            John Carter bercerita mengenai seorang petualang, arkeolog yang secara tidak sengaja menemukan suatu tempat atau portal antara Bumi dan planet yang bernama Barsoom. John menjadi orang yang paling dicari saat itu. Ia dipaksa untuk bergabung ke dalam angkatan perang AS yang sedang dalam misinya melawan suku Apache, namun ia adalah type orang yang tidak pernah kehabisan akal. Dia berhasil meloloskan diri. Dan kemudian kabur yang akhirnya membawa dia kesebuah gua misterius yang diyakini oleh dirinya sebagai gua yang menyimpan sebuah emas seperti yang dicari-cari oleh dirinya selama ini. Namun saat didalam ia dikejutkan oleh seorang “dewa” yang memegang sebuah kalung. Terkejut ada manusia biasa di gua yang jarang dijamah tersebut, sang dewa itu berusaha untuk membunuh Carter, karena memegang sebuah pistol, Carter berusaha melindungi dirinya dan menembak sang “dewa” tersebut. Ia mengambil kalungnya dan terlempar kesebuah planet bernama Barsoom. Yang tingkat gravitasinya berlawanan dengan bumi. Planet ini dihuni oleh mahluk-mahluk fantastis. Dan ternyata planet ini adalah planet yang dikenal oleh manusia bumi sebagai planet Mars. Berusaha mencari jalan pulang, Carter pun mulai berpetualang diplanet tersebut, terlibat dalam permusuhan dua kubu besar. Dimana yang satunya berusaha mendominasi, dan yang satunya berusaha mempertahankan eksistensi ke keberadaan kelompoknya. Bertemu dengan berbagai kumpulan “alien”, para manusia jahat dengan obsesi menguasai seantero planet, kemudian kelompok yang bertahan dengan putri yang cantik didalamnya. Pertarungan fantastis terjadi didalam film ini, kisah cinta antara Carter dan sang putri pun juga mulai tercipta.

            Menonton film ini mengingatkan saya pada saat menonton Prince of Persia yang juga dibawah naungan Disney. Namun kali ini Disney bermain dengan planet Mars. Semuanya bermain aman. Tidak buruk, efek-efek yang digunakan pun fantastis, jalan cerita yang menarik untuk diikuti. Namun Disney seakan bermain aman. Tidak ada hal yang diluar dugaan muncul di film ini. (dan sekali lagi ini hanyalah opini saya, yang akan agak subyektif). Adegan peradegan seakan bisa ditebak. Benar-benar tipikal film keluarga yang menarik disimak saat ingin menghabiskan bersama dengan keluarga di akhir pekan. Namun setelah menonton ini beberapa dari kita mungkin berpikir “we need more, come on!”. Beberapa dari kita mengharapkan ending yang unpredictable dan tidak selalu happy ending. Namun overall film ini tetap berhasil menghasilkan decak kagum banyak penontonnya, tetap nyaman untuk disimak. Yak John Carter tetap menjadi pilihan yang pas untuk kita para penggemar film J

Regards,

@dnielcarmichael

Stop talking, and mocking about the others dude. Just keep your mouth zipped!